SISWA DILARANG MEMBAWA HP KE SEKOLAH

Jum`at, 19 Oktober 2012 20:36:03 - oleh : admin

SISWA DILARANG  MEMBAWA HP KE SEKOLAH

 

Mulai tahun pelajaran 2012-2013 SMA Negeri 3 Purwokerto memberlakukan aturan baru. Para siswa tidak diperbolehkan membawa dan atau mengoperasikan HP di sekolah. Tata tertib yang tertuang dalam Aturan Tambahan Tata Tertib Siswa ini tidak muncul tiba-tiba. Awal tahun pelajaran 2011-2012 SMA Negeri 3 Purwokerto mewacanakan masalah ini. Setelah seluruh warga sekolah meyakini banyak sisi positif, sekolah mensosialisasikannya kepada orang tua siswa dalam rapat pleno awal tahun pelajaran. Rapat pleno itu memuluskan jalan pemberlakuan aturan ini mulai tahun pelajaran 2012-2013. Tulisan ini mencoba memberi informasi latar belakang, tujuan, sanksi pelanggaran, masalah yang muncul dan cara mengatasi, serta dampaknya bagi guru.

 

Sebagai alat komunikasi praktis dengan beragam merk dan variasi harga, HP menjadi barang yang tak terpisahkan dari kehidupan pelajar. Tidak terkecuali kehidupan siswa SMA di sekolah. Mereka menggunakan alat yang pertama kali dibuat tahun 1973 di sekolah dengan berbagai tujuan. Banyak yang menggunakan HP untuk berkomunikasi dengan penjemput saat pulang sekolah. Ada juga yang mendengarkan musik,  bermain game, berkirim sms, atau facebookan pada jam istirahat. Beberapa siswa memanfaatkan hasil teknologi ini dalam aktivitas pembelajaran dengan mengakses internet untuk mencari referensi. Bahkan, ada siswa yang karena tidak siap mengikuti ulangan dan tidak memiliki  catatan, memakai HP untuk menanyakan jawaban ulangan kepada mbah Google. Tidak kalah banyaknya ialah siswa yang menyimpan contekan di HP , memberikan,  atau menerima jawaban saat ulangan. Alat yang ditemukan oleh Martin Cooper menjadi sangat mengganggu ketika berbunyi pada jam-jam KBM. Lebih parah lagi bila siswa baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan mengoperasikan HP.  Tidak keliru apabila sekolah berkesimpulan bahwa konsentrasi siswa menjadi berkurang saat mengikuti pelajaran dan tidak secara optimal  menggunakan waktu istirahat untuk berhenti beraktivitas. Apabila dibandingkan mudlarat dan manfaatnya lebih berat di mudlarat.


Pelarangan membawa dan atau mengoperasikan HP di sekolah bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi pembelajaran yang efektif. Dengan konsentrasi yang lebih terjaga diharapkan para siswa belajar   dengan pola interaksi yang lebih sehat,  lebih berpartisipasi aktif, dan belajar dalam suasana yang lebih menyenang­kan karena guru tidak lagi harus menegur atau marah kepada  siswa yang mengaktifkan HP saat pembelajaran berlangsung. Pada jam istirahat  siswa bisa beristirahat tanpa aktivitas yang tidak penting, bersosialisasi dengan teman, berkonsultasi dengan guru BK atau dengan wali kelas.


Siswa yang melanggar aturan ini akan berhadapan dengan pasal

1. HP akan disita oleh Bapak/Ibu guru  yang mengetahui dan HP akan diserahkan kepada piket kesiswaan untuk dicatat pada buku pelanggaran. HP dapat diambil pada hari ke-4. Apabila akan diambil pada hari ke-2 atau ke-3, yang mengambil harus orang tua atau wali.

2. HP yang berisi hal-hal yang belum layak dilihat oleh siswa diambil oleh orang tua atau wali dan kartu yang ada pada HP disita oleh sekolah untuk dimusnahkan.

3. Pada pelanggaran ke-2 atau lebih, HP diambil oleh orang tua atau wali dengan menandatangani surat pernyataan.

 

Beberapa masalah muncul terkait dengan aturan ini. Namun, sekolah telah mengantisipasi dengan merancang cara-cara mengatasinya. Melalui telepon sekolah, karyawan Tata Usaha akan memfasilitasi keperluan komunikasi antara orang tua dan anaknya di sekolah. Mereka akan memanggil siswa yang karena kepentingan mendesak perlu menerima panggilan melalui telepon sekolah. Sekolah juga akan menyampaikan pesan atau informasi yang disampaikan orang tua kepada putra-putrinya.


Aturan yang secara formal ditujukan kepada siswa berdampak kepada guru-guru. Sebagai orang dewasa yang mendidik dengan pendekatan keteladanan, guru secara  sukarela dan penuh tanggung jawab ikut menegakkan disiplin sekolah dengan menunjukkan perilaku yang pantas untuk diteladani siswa-siswanya. Oleh karena itu, mulai tahun pelajaran 2012-2013 tidak ada guru yang membawa HP ke dalam kelas tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Guru hanya membawa HP ke dalam kelas dalam keadaan darurat. Misalnya, dalam kapasitas sebagai pengurus organisasi seperti PGRI, KORPRI, MGMP Kabupaten, atau sebagai guru pemandu seorang guru sedang menunggu informasi yang sangat penting dari pihak terkait. Itu pun dilakukan tanpa mengaktifkan tombol atau nada dering. Pada saat menerima panggilan atau sms guru akan keluar ruangan kelas dan meminta izin kepada siswa. (sy)

 

 

 

 

 

"Berita" Lainnya