KESULITAN PELAJARAN DAN DERAJAT RISIKO PRIBADI

Jum`at, 27 April 2012 11:10:21 - oleh : admin

KESULITAN PELAJARAN DAN DERAJAT RISIKO PRIBADI

Dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia SMA sering kita jumpai siswa tidak mau maju ke depan kelas untuk mengungkapkan  kembali  isi cerita atau tulisan yang baru dibaca,  tidak bisa menjawab pertanyaan guru secara lisan, dan  tidak mau mengucapkan kalimat,  paragraf,  atau wacana yang sudah disusun. Masalah-masalah itu muncul disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu penyebab adalah faktor tingkat kesulitan pelajaran dan risiko besar yang harus dihadapi siswa.

Guru sebagai pendidik maupun pengajar tahu bahwa materi atau konsep yang memiliki kompleksitas tinggi akan membuat siswa mengalami kesulitan untuk memahami. Kesulitan  pada materi pelajaran dapat menyebabkan siswa menahan diri atau menyebabkan belajar jadi mandek. Kemandekan menjadi semakin parah jika digabungkan dengan risiko besar yang harus dihadapi siswa. Apabila hal ini dibiarkan tentu tidak hanya kegiatan pembelajaran menjadi tidak menyenangkan, siswa pun sulit untuk menguasai kompetensi yang dipelajari.

Bagi sebagian siswa, berdiri di depan kelas atau ditunjuk untuk berbicara atau menjawab pertanyaan merupakan suatu risiko pribadi yang besar dan pengalaman yang sulit. Jika guru menggabungkan risiko besar dengan kewajiban menguasai pelajaran yang sulit, maka siswa tidak akan punya kesempatan untuk meraih sukses. Tanpa kita sadari, siswa dihadapkan pada dua masalah: pelajaran sulit + risiko besar.

Dalam pembelajaran menganalisis cerpen, kelas baru saja membaca sebuah cerpen yang tidak  mudah untuk dimengerti. Kemudian, lima detik selanjutnya, guru bertanya dengan suara melengking, “ Fauzi, apa tema cerpen yang tadi kamu baca?” Fauzi langsung dihadapkan pada pelajaran yang sulit dan risiko yang besar untuk menjawab. Hal ini terjadi juga ketika Rizki disuruh menceritakan isi atau maksud puisi Sutardji Calzoum Bachri di depan kelas beberapa detik setelah siswa lain menyuarakan. Akibatnya, Fauzi tidak bisa menjawab dan Rizki pun enggan melangkah ke depan kelas. Siswa-siswa pun tidak serta merta mau membaca kalimat, paragraf, atau wacana yang sudah dibuatnya jika guru kurang tepat dalam menunjuk atau menyuruh siswa.

Kasus yang pertama tidak akan terjadi apabila guru menanyakan tema cerpen secara klasikal terlebih dahulu,  kepada kelompok-kelompok kecil, baru perseorangan. Begitu pun untuk kasus kedua, pembelajaran akan lebih berhasil apabila guru menyuruh kelas menceritakan isi puisi secara bersama-sama,  seorang siswa menceritakan isi puisi dalam kelompok-kelompok kecil, baru perseorangan. Kasus ketiga bisa diatasi dengan guru menyuruh semua siswa membaca kalimat, paragraf, atau wacana utuh. Biarlah kelas menjadi  seramai pasar. Guru bisa juga menyuruh setiap anggota untuk membacakan kalimat, paragraf, atau wacana utuh dalam kelompok, baru perseorangan.

Dengan  cara ini siswa mendapatkan informasi atau jawaban dalam bentuk atau cara yang lebih mudah sambil mengambil risiko paling kecil dalam kelompok besar. Kemudian, ketika memindahkan ke kelompok kecil, risiko pribadi, sekalipun menjadi lebih besar karena mereka diperhitungkan satu-satu, tidak terlalu menekan karena mereka mulai mengenal isi pelajaran, mulai memahami konsep-konsep sulit. Akhirnya, pada saat mereka tampil sendiri-sendiri, mereka masih mengambil risiko besar, tetapi mereka dapat mengatasinya karena merasa percaya diri dan sudah menguasai pelajaran.

Oleh : Sri Yuliyarti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"Artikel" Lainnya