Map Merah Membakar Yu Dikin

Jum`at, 28 Juni 2013 10:48:51 - oleh : admin

Map Merah Membakar Yu Dikin

Oleh : Minatus

 

         Map merah itu menjadi menyebalkan bagi Yu Dikin. Setiap kali matanya menatapnya,  hatinya terasa mendongkol. Apalagi memegangnya! Seluruh atmosfir pikirannya menjadi terbanting-banting. Harapan-harapan untuk anaknya menjadi kunang-kunang yang menebarkan kekacauan. Seiring dengan itu, pusing pun sudah mulai menggerayangi batok kepalanya.

                   Map kumal itu berisi nilai-nilai ujian anaknya, Sutrinah. Yu Dikin sebetulnya dari rumah sudah merasa yakin bahwa Sutrinah akan diterima di SMA tiga. Jumlah nilai seluruhnya 68. Sementara anak-anak tetangganya hanya 64, 65. Bahkan anak juragan , sebelah barat rumahnya hanya 62. Maka, tidak aneh , waktu berangkat ia pamit tetangga dengan pe-de banget. Semua surat-surat tentang dirinya telah dia angkut semua. Ada surat jamkesmas, raskin, keterangan melarat dari RT. Itu semua, menurut Yu Dikin dapat menjadi senjata bagi dirinya untuk mencari kursi masuk SMA.

         Sesampai di SMA yang ia tuju, Yu Dikin dan Sutrinah saling membacakan jurnal angka yang diumumkan panitia penedaftaran.

           “Berapa Nah, angka paling rendah?” tanya Yu Dikin.

            “ Ini ! Tujuh lima! Mak!” kata Sutrinah kepada biyungnya, sambil telunjuknya menekan-nekan angka di papan pengumuman.

                   “Mana-mana? Kamu juangan ngacau!”Yu Dikin tak percaya kata anaknya itu

           “ Ini! Ke sini Mak!” ajak Sutrinah.

           “ Wa...ladalah...! Tujuh lima? Mati aku!” Yu Dikin kaget.

           “ Wah, kalau begini, nasibmu bisa hancur Nah. Hancur! Nilaimu dibanding satu RT paling bagus, ternyata di sini tidak termasuk yang diterima!” ujar Yu Dikin sambil menerocoskan kekesalnya  di samping anaknya itu.

           “ Lalu saya sekolah di mana Mak, kalau di SMA ini tidak diterima?” desak Sutrinah sambil merangkul ibunya itu.

           “ Saya akan protes dengan panitianya! Kalau gagal, saya akan ke DPR!” jawab Yu Dikin penuh nada gagah.

             Ia memang protes kepada panitia mengapa anaknya yang nilainya 68 dan sebagi  orang miskin yang  punya jamkesmas, kartu raskin, kartu BALSM, anaknya tidak duterima di SMA.

        “Panitia apa itu! Tidak mendengarkan rakyat miskin! Mestinya kartu-kartu miskin saya ini dijadikan pertimbangan. Bahkan harusnya diprioritaskan!” desak Yu Dikin pada ketua panitia dengan berapi-api, hampir membakar emosi salah satu panitia yang jenggotnya belum dicukur.

       Jawaban panitia yang dianggap tidak adil itulah yang menjadi bahan protes kepada anggota DPR fraksi partai YU Dikin. Yu Dikin masih ingat wajah caleg yang dulu fotonya dicoblosnya. Maka, tanpa tanya panjang lebar, ia langsung, cas-cis-cus-cos melaporkan kepada sang caleg, idolanya. Al hasil, calegnya Yu Dikin pun malah membentaknya karena Yu Dikin naik mimbar sidang DPR sambil melepas jilbabnya untuk orasi penuh semangat. Sang caleg pun ditegur pimpinan sidang DPR waktu itu agar diajak dialog di ruang fraksinya.            

 

 

 

 

 

 

"Berita" Lainnya