UN 2013 dan Stres yang Mendera Seorang Guru

Minggu, 14 April 2013 21:37:19 - oleh : admin

UN 2013 dan Stres yang Mendera Seorang Guru

 

 

Empat puluh delapan jam sebelum murid-muridku mengerjakan soal UN perasaan tertekan, galau, dan stres menyerangku tanpa  bisa dibendung. Dibandingkan usiaku yang setengah abad, perasaan-perasaan itu mungkin berlebihan dan tidak masuk akal. Apalagi jika dikaitkan dengan jam terbangku sebagai seorang guru yang telah kutekuni sejak  lulus UNS  tahun 1987 pasti tampak lebay.

 

Aku berusaha mengurai kemungkinan-kemungkinan yang kuduga memiliki jalinan sebab akibat. Hal ini kulakukan  agar aku bisa lepas dari tekanan. Aku ingin menjalani hari-hariku seperti biasa, bekerja keras tanpa tekanan dari apa dan siapa pun, menikmati kebahagiaan hidup dalam kesahajaan, dan menjadi bagian dari beberapa komunitas yang aku sukai. 

 

Aku  memang memiliki idealisme. Ingin agar lebih dari 90 % muridku mampu menjawab benar 38 soal atau lebih.  Dengan demikian, nilai minimal yang dicapai adalah 76, hampir sama besarannya dengan KKM dan nilai ujian sekolah 75 yang  telah kuserahkan kepada bagian kurikulum yang bersama nilai semester 3, 4, dan 5 berkontribusi 40 % terhadap nilai akhir. Beberapa siswa   memang akan mengganjal pencapaian itu. Andai beberapa dari mereka tidak mampu menembus angka 76 aku sangat bisa menerima karena memang tidak mudah  mencapai nilai tersebut dengan bentuk soal pilihan ganda. Kesimpulanku, idealisme mencapai nilai 76 sepertinya tidak berlebihan,  cukup realistis, dan tidak seharusnya  membuatku tertekan dalam hari-hari terakhir menjelang UN.


Seperti guru-guru pengampu mapel UN yang lain, aku merasa telah melakukan tugas secara maksimal, bukan saja agar idealismeku terwujud. Aku juga ingin merasakan kepuasan batin karena merasa telah berusaha memberikan layanan pendidikan yang memadai kalau tidak boleh dikatakan berkualitas. Berbagai model pembahasan  soal-soal telah aku cobakan. Soal-soal kategori mudah, sedang, dan sukar versi murid-muridku telah teridentifikasi, telah dianalisis, dan dibahas tuntas. Bahkan tahun ini sekolahku menerapkan kebijakan memberikan intensifikasi khusus kepada 1/3 kelompok atas dan 1/3 kelompok bawah. Semua guru mapel bahasa Indonesia berjibaku memfasilitasi siswa menguasai SKL, mengenali indikator SKL, mengakrabi tipe-tipe dan bentuk-bentuk soal, serta memberi argumentasi pada jawaban benar maupun 4 opsi yang salah. Semakin tidak masuk akal kalau aku merasa tertekan karena semua usaha telah dilakukan dan doa telah dipanjatkan.

 

Sistem baru  UN 2013  yang menggunakan 20 paket soal untuk setiap ruang dengan 20 peserta ujian dengan tujuan meminimalkan kerja sama di antara peserta ujian dan menutup akses penggunaan isu bocoran kunci jawaban sama sekali tidak membuatku risau. Sudah  seharusnyalah UN didukung oleh suatu sistem yang menjamin mutu hasil UN. Penggunaan barcode pada setiap set soal juga aku setujui sepenuhnya karena sadar bahwa UN  harus didukung oleh suatu sistem yang menjamin kerahasiaan soal dan menjamin pelaksanaan yang aman, jujur, dan adil. Perbedaan soal tiap ruang juga merupakan usaha yang pantas diapresiasi positif.  Tiga hal  yang aku paparkan sama sekali tidak mengganggu hidupku karena menurutku tidak ada artinya nilai UN tinggi yang diperoleh melalui cara-cara tidak terpuji.

 

Terakhir aku mencoba menganalisis tanggapanku terhadap obsesi kepala sekolah yang ingin  mengukir sejarah di SMA N 3 Purwokerto, yaitu mewujudkan impian besar agar pada UN 2013 siswa kelompok atas memperoleh nilai 100. Artinya, harus ada 6 siswa jurusan IPS yang kuampu meraih nilai 100 pada UN bahasa Indonesia. Di hadapan kepala sekolah aku sudah mengaku sangat sulit mencapai target nilai 100 walau hanya satu anak apalagi 6 anak. Bukan karena nilai ke-6 anak tersebut tidak berada di peringkat pertama mapel bahasa Indonesia di kelas-kelas yang kuampu. Bukan pula disebabkan aku, gurunya pun hanya mendapatkan nilai 72 pada UKG yang diselenggarakan kemendikbud secara online beberapa bulan lalu.  Alasannya lebih pada karakteristik soal UN bahasa Indonesia yang membuat siswa tidak percaya diri mampu mengerjakan dengan benar 50 soal.  Teori, konsep, karakteristik tiap soal, dan trik menghadapi setiap soal yang telah dikuasai siswa tidak serta merta membuat mereka dengan mudah dan pasti memilih jawaban yang benar. Bacaan panjang yang mengawali hampir semua soal juga ikut andil dalam kesulitan pengerjaan soal UN bahasa Indonesia.


Ternyata target 6 anak memperoleh nilai 100 yang dibebankan ke pundakkulah penyebab stres yang kurasakan. Rupanya sebelum kepala sekolah memberikan punishment aku harus berusaha memaafkan diri sendiri andai target itu itu gagal tercapai dengan mengingat sebuah pembanding. Aku dan teman-teman guru bahasa Indonesia se-Kabupaten Banyumas dan Cilacap tak satu pun  mencapai nilai 100 saat disuruh mengerjakan soal UN dalam acara bertajuk Bedah SKL beberapa tahun lalu.   Mungkin  itu disebabkan mereka tidak seserius aku dalam mengerjakan soal-soal yang setahun sebelumnya dikerjakan para siswa.(SY)

 

 

"Artikel" Lainnya